Berita >> Tuk Tulangan, Mata Air Alam yang Menjadi Warisan Warga Selo
Tuk Tulangan, Mata Air Alam yang Menjadi Warisan Warga Selo
Di lereng Gunung Merbabu, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali terdapat sejumlah sumber mata air alami yang menjadi bagian penting kehidupan masyarakat setempat, di antaranya yaitu sumber mata air Tuk Tulangan. Sumber ini tidak hanya menyediakan air bersih untuk kebutuhan sehari‑hari, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi budaya lokal yang lestari sejak turun‑temurun.
Menurut kajian potensi sumber mata air di wilayah Desa Lencoh, yang termasuk kawasan lereng Merbabu, terdapat setidaknya sepuluh titik mata air, salah satunya adalah Tuk Tulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tuk Tulangan memiliki debit tertinggi dibandingkan sumber lainnya di wilayah itu, yaitu sekitar 1,292 liter per detik, serta kualitas airnya memenuhi standar air bersih berdasarkan uji fisik‑kimia di laboratorium. Air dari Tuk Tulangan dan sumber utama lain seperti Tuk Salam dikategorikan sebagai mata air kelas pertama, layak dimanfaatkan masyarakat untuk konsumsi dan kebutuhan rumah tangga.
Pihak pemerintah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Boyolali juga mengapresiasi tradisi tersebut sebagai bagian dari kekayaan budaya lokal yang layak dilestarikan. Mereka menyatakan bahwa prosesi ritual dan keberadaan sumber mata air seperti Tuk Tulangan merupakan bagian dari warisan budaya tak benda yang mendukung ketahanan lingkungan sekaligus memperkuat identitas sosial masyarakat setempat.
Dengan kondisi alam yang terus berubah dan tekanan kebutuhan air di berbagai daerah, kelestarian sumber mata air lereng Merbabu seperti Tuk Tulangan menjadi semakin penting. Warga berharap adanya dukungan formal dari pemerintah dan masyarakat luas untuk menjaga fungsi ekologis, kearifan lokal, serta keberlanjutan sumber air ini bagi generasi yang akan datang.
Cagar Budaya